Sikap Ibnu Taimiyah terhadap Tafsir Tercela
Ibnu Taimiyah, adalah ulama yang bersikap kritis terhadap penafsiran secara sembarangan. Sejarah di zaman Syaikhul Islam itu sama hal nya dengan kondisi kita sekarang ini. [edisi pertama]
Ada situasi yang sama antara zaman Ibnu Taimiyah dengan kondisi sekarang. Saat itu, dunia intelektual Islam dan umat Islam juga mengalami banyak kekalahan di bidang (politik, ekonomi, budaya dan militer). Sama halnya dengan saat ini di mana, ada hegemoni Barat. Paralel dengan pembusukan imperium Islam saat berhadapan dengan tentara Salib dan pasukan Jengis Khan.
Yang kedua, wajah dunia Islam yang carut-marut di bidang intelektual dan budaya, yang ditandai dengan gejala erosi identitas umat Islam atau apa yang disebut ‘Abd al-Hamîd Abû Sulaimân sebagai 'Krisis Akal Muslim', juga dapat kita lihat padanannya dengan krisis intelektual dunia Islam saat Ibnu Taimiyah berkarya dan berpolemik dengan beberapa elit intelektual Muslim saat itu.
Ia pernah menyerang ulama yang terbius dengan metode logika Aristotelian dalam menguraikan pokok agama Islam dalam buku al-Radd 'alâ al-Manthiqiyyîn, Nashîhat Ahl al-Îmân li Radd 'alâ Manthiq al-Yûnân dan Naqdl al-Manthiq.
Menghadapi arus Asy'arianisme yang sangat dominan dan menghegemoni saat itu ia menyusun buku Majmû'at al-Rasâil al-Kubrâ dan al-Fatwâ al-Hamawiyyah al-Kubrâ. Selain itu ia juga menyusun Minhâj al-Sunnah al-Nabawiyyah yang mengoreksi dasar-dasar akidah Syiah dan menelanjangi kebobrokan sekte Qadariyyah.
Untuk menghindari keraguan atas klaim berseberangannya wahyu dengan akal manusia ia menyusun buku al-Nubuwwât, Ma’ârij al-Wushûl dan Dar'u Ta'ârudl al-'Aql wa al-Naql yang mesti diposisikan sebagai ensiklopedi luar biasa yang mendokumentasikan perdebatan ahli kalam dan filosof Muslim sejak al-Fârâbî hingga al-Râzî.
Ketiga, hemat penulis kita memerlukan semacam spirit besar untuk mengahadapi gelombang arus pemikiran yang dahsyat dengan mengambil inspirasi dari tokoh sekaliber Ibnu Taimiyah yang memiliki 'nafas panjang' dan stamina luar biasa ketika mengkritisi seluruh bangunan pemikiran Islam.
Tak heran jika Prof. Ismâ’îl R. al-Fârûqî, tokoh intelektual Muslim terkemuka di Amerika yang menjabat direktur pertama International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang getol menyuarakan Islamisasi ilmu pengetahuan, ketika ditanya oleh kolega dan murid-muridnya; dari mana beliau menguasai konstruksi pemikiran Islam dan mengeksiskannya di tengah arus kemodernan? Ia menjawab singkat "...Saya banyak belajar dari karya-karya Ibnu Taimiyah!.."
Keempat, produktifitas intelektual Syaikhul Islam dalam wacana nalar kritis tafsir merambah dua aspek kelemahan khazanah tafsir klasik yaitu ma’tsûr dan ra’yu. Satu hal yang amat jarang dijumpai pada tokoh lain dalam sejarah pemikiran Islam. Ditambah lagi dengan keberhasilannya membangun madrasah pemikiran yang banyak menelurkan para sarjana Muslim yang kritis dalam sejarah pemikiran Islam seperti Ibnu Qayyim, Ibnu Katsîr, Ibnu ‘Abd al-Hâdî, Syams al-Dîn al-Dzahabî dan lain-lain yang banyak berjasa di bidang tafsir, hadis, sejarah dan filsafat bahasa serta kesusasteraan. Di abad modern tercatat Muhammad ‘Abduh, Rasyîd Ridlâ, Muhammad Iqbâl dan Ismâ’îl al-Fârûqî diantara sekian deretan intelektual Muslim yang banyak diilhami oleh ide-ide dan pemikirannya.
Ibnu Taimiyah dan Tafsir Al-Qur’an
Dalam wacana nalar kritis tafsir Al-Qur’an ia telah menyusun bebarapa karya ilmiah seputar metode penafsiran Al-Qur’an seperti: Muqaddimah fî Ushûl al-Tafsîr, al-Iklîl fî al-Mutasyâbih wa al-Ta’wîl, Aqsâm al-Qur’ân, Risâlah fî ‘Ilm al-Bâthin wa al-Dhâhir dan al-Furqân bayn al-Haq wa al-Bâthil, yang selain menyuguhkan kaidah-kaidah penafsiran secara jernih dan brilian juga membantah asumsi bahwa Al-Qur’an memiliki makna lahir dan batin sebagaimana dipahami para dedengkot tasawuf falsafi, yang sekarang laku keras bak kacang goreng.
Di samping itu menurut penulis karya-karya polemis Ibnu Taimiyah yang disinggung di atas dapat penulis kategorikan sebagai “Tafsîr Mawdlû’î”. Dalam karya-karyanya itu selain mengkritisi bangunan pemikiran tradisional ia menghadirkan pemahaman Islam yang progresif dengan pijakan tafsir Al-Qur’an yang brilian dan orisinil.
Menurut beliau, penafsiran yang sesuai kaidah agama dan kebahasaan tidak tercakup dalam lingkup yang tercela. Tafsir yang tercela adalah yang berdasarkan pandangan akal semata atau periwayatan yang tidak jujur. Karena kegigihannya menghadang setiap upaya penafsiran Al-Qur’an dengan pendapat akal spekulatif dan riwayat-riwayat yang tidak bertanggung jawab, kajian-kajian Ibnu Taimiyah tentang Al-Qur’an menurut sementara ahli merupakan embrio lahirnya Ilmu Dakhîl (Metode Kritik Tafsir). (baca al-Dakhîl fî al-Tafsîr, Prof. Dr. Ibrâhîm Khalîfah, Vol 1, hlm.12)
Diantaranya, beliau menolak mentah-mentah penafsiran Al-Qur’an berdasarkan periwayatan lemah atau dusta yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya seperti Isrâiliyyât sebagaimana hadis Nabi yang berbunyi “Apabila Ahli Kitab meriwayatkan kepada kalian maka jangan kalian membenarkannya dan jangan pula mendustakannya karena bisa jadi mereka membawa kebenaran sementara kalian mendustakan dan bisa jadi mereka membawa kebatilan sementara kalian membenarkan”. [baca kelanjutnya tentang tiga bentuk penyelewangan tafsir]
Oleh: Fahmi Salim, Lc
Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana (S-2) Jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an, Universitas Al-Azhar Mesir dan kontributor buku "Otentisitas Al-Qur’an" yang dipublikasikan oleh FORDIAN, April 2003
Sumber : www.hidayatullah.com, 07-09-2006
http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3564&Itemid=60
Thursday, September 07, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment